Islam, Pendidikan, Nasionalis dan Tokoh sebagai Jualan Media Kampanye Politik pada PILKADA NTB 2018
Sejak akhir tahun 2016
lalu, Provinsi NTB sudah mulai riuh dengan kabar beberapa nama yang akan
mencalonkan diri menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2018-2021. Sejak
itu pula, sudah ada beberapa bakal calon kandidat yang mulai melangsungkan aksi
kampanye di tengah-tengah masyarakat. Ini ditandai dengan kemunculan media
kampanye politik seperti baliho dan poster. Kehadiran media seperti ini tentu
bukan tanpa maksud atau tujuan tertentu, melainkan dilakukan secara sengaja dan
terencana untuk memperkenalkan kandidatnya kepada masyarakat.
Pada pertengahan 2017, pemberitaan tentang pertarungan politik
untuk merebut gelar orang nomor satu di NTB ini semakin gencar. Berbagai
strategi periklanan untuk memperkenalkan para kandidatnya pun beraneka ragam.
Mulai dari penggunaan media yang bersifat konvensional hingga media
kontemporer, seperti pemasangan poster di tembok-tembok dan pepohonan di
pinggiran jalan, spanduk, baliho, memasang iklan di media cetak, radio,
televisi lokal, serta penggunaan media daring (Facebook, Twitter, Instagram).
Dari momentum demokrasi Pilgub NTB ini, saya tertarik untuk
mengamati secara sederhana tentang fenomena kehadiran media kampanye politik
beberapa pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut, dimana saya
mengambil beberapa sampel iklan kampanye politik masing-masing pasangan calon yang kini tersebar di tengah-tengah masyarakat, di antaranya yang sudah mulai
senter hadir menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.
Dari beberapa
contoh media kampanye berikut, saya melihat dari ke empat media tersebut cenderung
memiliki kesamaan pesan yang ingin dikonstruksikan atau daya jual yang sama
untuk menarik simpati masyarakat NTB, di mana pada tampilan media tersebut
menonjolkan sisi Agama (Islam), Pendidikan, Nasionalis dan penggunaan Tokoh.
Islam, Pendidikan, Nasionalis
dan Tokoh sebagai Daya Tarik Pemilih NTB
Indonesia pada umumnya merupakan Negara dengan mayoritas
penduduk pemeluk agama Islam. Bahkan termasuk sebagai salah satu Negara yang
memiliki populasi dengan persebaran umat Islam terbesar di dunia. Oleh karena
itu tidak heran jika banyak para calon pemimpin yang ingin berkuasa menggunakan
atribut-atribut yang melambangkan identitas Islam sebagi bagian dari strategi
komunikasi politik. Selain itu, basis Islam di Provinsi NTB pun cukup kuat
dibandingkan di daerah lainnya.
Hal tersebut juga diterapkan oleh para calon kandidat Gubernur
dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023. Sebagaimana terlihat pada media
kampanye di atas, tampak di depan nama para calon kandidat tercantum gelar
“Haji/Haja”. Gelar ini bukan sembrang gelar, karena tidak semua umat Islam mampu
menunaikannya, di mana di satu sisi tidak sedikit orang yang menginginkannya.
Gelar tersebut dimunculkan sebagai pembuktian bahwa para calon kandidat telah
menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam yaitu melaksanakan ibadah haji yang
merupakan rukun Islam yang ke-5. Dengan penggunaan gelar ini diharapkan mampu
merubah citra sang calon seakan-akan mereka telah tuntas dengan perkara agama.
Begitu juga dengan pencantuman gelar “Tuan Guru”.
Dalam konteks
pemilihan di NTB, maka gelar ini memiliki daya pikat tersendiri bagi masyarakat
NTB, terkhusus masyarakat Lombok. Sebagai mana dijelaskan oleh TGH Ahmad
Taqiuddin Mansur (Ketua PWNU NTB) kepada NU online (di akses di http://www.nu.or.id
/post/read/58732/ tuan-guru-sebutan-ulama-khas-lombok pada 18 Juni 2017)
bahwa “istilah Tuan Guru memang akrab dengan masyarakat Lombok, Nusa Tenggara
Barat. Tuan Guru merupakan sebutan, panggilan, sekaligus gelar dari masyarakat
untuk ulama di daerah ini. Posisi Tuan Guru setara dengan Kiai di Tanah Jawa.
Sebutan Tuan Guru menurutnya, selain karena memiliki trah atau keturunan
Tuan Guru pendiri pesantren, juga memiliki keilmuan yang mumpuni”.
Kemudian selain mencantumkan gelar Agama (Haja/Haji dan Tuan
Guru), untuk memperkuat identitas keislamannya dapat dilihat pada media kampanye
politik di atas, terlihat foto para calon kandidat, yang pria mengenakan
songkok/kopiah dan wanita menggunakan hijab. Tampilan ini akan saling
melengkapi dan memperkuat, dengan pencantuman gelar Haji/Haja dan Tuan Guru
dibarengi dengan penggunaan songkok/kopiah dan jilbab bahwa selain sebagai
bentuk pernyataan identitas diri bahwa mereka merupakan bakal calon Gubernur
dan Wakil Gubernur dari kalangan muslim juga merupakan pasangan bakal calon
kandidat yang religius.
Bukan hanya
itu, pasangan calon Suhaeli-Amin dan Ali-Sakti bahkan memperkuat nuansa agamis
media kampanye mereka dengan bermain warna, sebagaimana terlihat pada media
tersebut di landasi dengan background warna hijau yang juga merupakan simbol agama Islam. Sebagaimana
Ahmad dalam bukunya yang berjudul “Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum
Nasional” menyatakan bahwa warna hijau adalah simbol Islam universal. (Ahmad, dkk 1996 :
17). Sebagai contoh dapat dilihat pada warna logo sebagaian besar partai-partai
atau organisasi-organisasi Islam baik di Indonesia maupun dunia yang kerap
menggunakan warna hijau. Selain itu, permainan warna selanjutnya yaitu “Putih”
yang digunakan oleh seluruh media kampanye kandidat. Dimana putih juga
menunjukkan sebuah kesucian (di dalam Agama Islam sendiri kesucian adalah
sesuatu yang harus dijaga untuk mendekatkan diri ke Allah SWT) dan suci
seringkali dikaitkan dengan bersih (bebas korupsi).
Pendidikan
Selain menonjolkan sisi Agama, ternyata tingkat pendidikan
masing-masing calon kandidat juga menjadi bahan pertaruhan pada kontestasi
Pilkada NTB. Hal ini dapat dilihat bagaimana mereka mencantumkan gelar akademik
yang mengawali nama mereka, ada juga yang mengakhiri nama mereka serta ada pula
yang namanya diawali dan diakhiri oleh gelar pendidikan yang diraihnya. Gelar
ini pastinya sengaja dimunculkan sebagai bahasa politik bahwa mereka adalah
calon pemimpin yang berpendidikan, cerdas dan berkapasitas. Sehingga nantinya
diharapkan mampu mempengaruhi keputusan para pemilih.
Nasionalis
Yang tidak kalah menarik selain menonjolkan sisi Agama dan
Pendidikan adalah sosok pemimpin yang nasionalis. Nasionalis disini dalam
artian para calon kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur ini tidak hadir atau
tampil bersama pasangannya dengan mengenakan pakaian adat atau berciri khas
masing-masing daerahnya, tapi para calon kandidat tampil dengan foto mengenakan
jas dan batik sebagai representasi dari pribadi yang nasionalis. Artinya mereka
hadir di pertarungan demokrasi ini bukan mewakili daerah masing-masing atau
etnis manapun, melainkan mereka hadir untuk masyarakat NTB sebagai figur
nasionalis. Terlebih, isu etnis cukup sensitif di tengah masyarakat NTB.
Tokoh
Dalam
kontestasi Pilkada NTB ini, rupanya tidak hanya Agama, Pendidikan ataupun figur
Nasionalis sebagai daya jual kepada masyarakat, tapi juga “Ketokohan”.
Kehadiran Tokoh memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Indonesia, baik itu
tokoh nasional maupun tokoh agama seperti Soekarno, Hatta, Tjokroaminoto, Agus
Salim dan lainnya. Nama-nama ini tentunya masih sering terdengar di telinga
kita, menjadi panutan dan rujukan bahkan tidak sedikit orang yang selalu
mengagung-agungkan seorang Tokoh. Artinya keberadaan seorang Tokoh di Indonesia
memiliki pengaruh besar di tengah maasyarakat. Sehingga tidak heran jika
melihat media kampanye di atas, untuk pasangan Zul-Rohmi dan pasangan
Ahyar-Mori masing-masing bersanding figur tokoh, yaitu TGB dan Prabowo.
Pemilihan dua tokoh ini tentu tidak sembarang pilih, mengingat konteks Pilkada
ini adalah NTB. Tokoh TGB dengan NTB memiliki ikatan tersendiri, begitu pula
dengan tokoh Prabowo dengan NTB juga memiliki historis tersendiri. Hingga kini
TGB tercatat sebagai Gubernur NTB 2 periode berturut-turut, artinya tidak
diragukan lagi bahwa dia memiliki pengaruh besar di NTB. Demikian juga dengan
tokoh Prabowo. Berbicara tentang arti tokoh Prabowo di kalangan masyarakat NTB
mari sejenak kita mengingat kembali momen Pilpres 2014. Di mana pada kontestasi
pemilu tersebut terdapat dua pasangan calon yang bertarung, Prabowo-Hatta dan
Jokowi-JK. Hasilnya Prabowo-Hatta menang telak dari Jokowi-JK dengan persentase
suara yang diraihnya 72,54 % sedangkan Jokowi-JK hanya 27,54 %. Sebagaimana
dijelaskan oleh Ketua KPU NTB saat itu, Lalu Aksar Ansori kepada Republika (di
akses di http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita -pemilu/14/07/19/n8x2pb-
prabowohatta-menang-telak-di-ntb) “Kemenangan pasangan ini merata di
10 kabupaten kota yang ada di NTB.
Perolehan
suara capres dan cawapres nomor urut satu se-NTB sebanyak 1.844.178 atau 72,45 persen.
Sedangkan, Jokowi-JK 701.238 atau 27,54 persen,” sebutnya.
Dengan demikian kiranya kita dapat pahami bersama bahwa setiap
tampilan media kampanye politik yang disajikan tidak asal-asalan melainkan
memiliki ideologi, maksud dan tujuan politik. Pada tulisan ini saya tidak
menganalisis tagline ataupun visi masing-masing pasangan calon. Renungkan
sendiri, kenali siapa pilihan kita. Sebagai warga Negara yang baik, mari kita
sukseskan Pilkada NTB 2018 nanti. Siapapun yang menang, dialah pemimpin kita.
Pemimpin yang akan mewujudkan kesejahteraan bagi Rakyatnya.




Komentar
Posting Komentar